Sebuah pengalaman stage : Tugasku kah??

Di kesempatan ini aku belajar sangat banyak tentang makna kehidupan manusia. Bagaimana manusia itu sangat menarik untuk dipahami jalan hidupnya. Manusia punya keinginan, manusia punya pengetahuan, manusia punya keahlian, manusia bisa mengembangkan hidup, dan ada sangat..sangat..sangat..banyak hal dalam hidup manusia tersebut yang dapat diamati dan dipelajari. Tapi meskipun demikian, saat keterbatasan sudah menghadang manusia, manusia itu terlihat sangat kecil.

Aku masih ingat jelas bagaimana pengalaman saya melihat orang-orang tua yang sudah sangat terbatas secara fisik karena sakit. Mereka tidak sanggup lagi bepergian, bahkan untuk ke gereja. Kursi roda dan kursi roda. Tempat tidur dan tempat tidur. Seolah-olah hanya segitulah dunia mereka. Tapi, beberapa waktu lalu aku masih bisa melihat orang-orang lanjut usia dengan keadaan yang lebih baik. Masih bisa berjalan, berbicara lancar, dan memberikan respon yang baik. Ya,,, walaupun sudah mulai melambat dalam pergerakannya. Tapi itu pun ternyata pada satu sisi mereka sangat lemah. Saat ternyata ada luka batin yang mereka simpan, dan itu terungkit kembali. Sangat jelas kulihat bagaimana mereka tiba-tiba berubah menjadi orang yang begitu kesakitan, bahkan emosi mereka pun terluapkan dalam air mata dan suara rintihan yang keluar dari diri terdalam mereka. Aku iba melihatnya. Aku pun bertanya lagi pada diriku, apa yang bisa kuperbuat untuk orang-orang ini??? Apa yang mereka harapkan dari orang-orang seperti aku?? Aku sempat berpikir, apa yang mereka pikirkan pada waktu-waktu senggang mereka yang begitu banyak??? Apakah mereka menemukan Tuhan?? Bagaimana cara mereka mencari Tuhan?? Bukankah seharusnya luka-luka batin mereka sembuh dengan begitu banyak waktu yang mereka miliki untuk sendiri. Atau jangan-jangan mereka tidak sadar dengan kesempatan itu?? Semoga aku tidak terlalu jauh bertanya-tanya tentang mereka.

Di sisi lain, aku pun melihat orang-orang muda yang masih sangat segar. Terlihat masih sangat menikmati hari-harinya, sepertinya. Aku sedikit ragu. Karena ternyata dari percakapanku dengan beberapa orang, yang mereka nikmati adalah dunia terang yang mereka punya. Dunia yang di dalamnya ada suka cita, rejeki, teman-teman, canda, tawa, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Tetapi saat kami membicarakan tentang problematika hidup, seakan-akan itu menjadi dunia yang gelap. Dunia yang tidak diharapkan, tidak ada gunanya, tidak ada nilai baiknya. Pengalaman-pengalaman membuat kesalahan ada di dalam dunia gelap itu. Kekecewaan-kekecewaan juga ada di dalam dunia gelap itu.

Aku merasa prihatin dengan semua itu. Mungkin,, mungkin,, karena hidupku yang bisa kujalani dengan lebih baik dari sebelumnya ini kudapat dari pembelajaranku akan dunia gelap itu. Itu menurutku. Ingin rasanya mengatakan pada mereka, “Heyyy, di dalam dunia gelap itu ada sangat banyak pelajaran untuk bertahan di masa depan dengan lebih siap. Mari kita lihat bersama.!!!” Tapi sampai sekarang aku masih ciut nyalinya karena aku berpikir, siapalah aku??

Aku berpikir kalau-kalau ternyata sampai hari ini ada begitu banyak orang yang hidup dalam keterbatasan menikmati hidup secara total karena tidak mau mengakui dunia gelapnya. Tidak mau belajar menikmati kegelapan yang perlu ada. Lagi-lagi aku bertanya-tanya. Tugaskukah ini sebagai seorang pelayan? Dari mana aku harus memulai untuk membantu mereka?? Bagaimana kalau aku ditolak??

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: