Sebuah pengalaman stage : Usia Lanjut

Mengikuti berbagai kegiatan selama mengikuti prkatek kejemaatan ini, ada sangat banyak pengalaman, pelajaran, dan ilmu yang kudapatkan tentang hidup. Hidup awam maupun hidup para penggereja. Bahkan tidak jarang semua itu membuat aku tersentak sehingga membekas sedemikian rupa dalam ingatanku. Ada kalanya aku tersentak karena takjub, namun juga karena merasa asing dengan pengalaman tersebut.

Aku mulai dengan pelajaran dari pengalamanku dengan mereka yang sudah berusia lanjut. Aku melihat bagaimana manusia itu ternyata kalah dengan waktu. Waktu membawa manusia pada ambang batasnya. Kulihat diriku dan diri orang-orang yang masih dikatakan muda ini. Bergerak aktif dan cekatan, punya akselarasi yang baik, respon sensitif, dan intinya, masih segar. Sedangkan mereka, rasa-rasanya semua terlihat sangat lambat dan terbatas. Bahkan, ketika aku pun harus melihat bentuk keberadaan yang lain, yaitu ketika mereka hanya bisa duduk dan duduk di kursi roda. Kursi roda menjadi bumi mini mereka. Bumi yang membawa mereka di bumi yang sebenarnya, karena di bumi yang sebenarnya mereka tidak dapat lagi berbuat apa-apa untuk melangkah. Lebih dari itu, di kursi itu keadaan mereka menjadi sangat berbeda dari cerita-cerita tentang mereka yang pernah kudengarkan. Mereka yang tadinya kuat, enerjik, bersemangat dan merespon dengan baik, sekarang terlihat sangat ringkih dan bahkan memberikan respon tidak sesuai dengan harapan. Hampir tidak ada lagi sisa-sisa kegagahan seorang manusia dalam diri mereka. Waktu menang dan mengalahkan kemanusiaan.

Tetapi, dari keprihatinan yang demikian kekagumanku pun lahir. Ada dua hal yang umumnya mereka miliki dan menjadi kelebihan mereka, yaitu waktu itu sendiri dan kesetiaan.

Waktu, yang semasa muda menjadi salah satu petarung saingan yang sering mengalahkan mereka dalam hidup mereka, sekarang menjadi teman sejati mereka. Maksudku, sekarang mereka memiliki waktu itu sepenuhnnya. Waktu tidak lagi menjaid momok yang selalu mengejar aktivitas hidup. Seolah-olah semua bergantung pada waktu.  Sekarang waktu itu selalu ada untuk mereka dan diri mereka. Dengan waktu mereka mempelajari hidup yang pernah ada dulu dan sekarang untuk hidup di masa depan. Itu yang kulihat ketika ada realita yang menunjukkan Opa-opa dan Oma-oma yang dengan setianya datang ke gereja untuk berbagai persekutuan yang ada. Dan kesetiaan itulah kekagumanku yang kedua.

Waktu yang telah membuat mereka “kalah” secara fisik, melemahkan mereka, secara tidak langsung melatih mereka menjadi orang yang peka demi harapan mereka di masa mendatang. Harapan akan akhir yang indah dari mereka. Mungkin itu yang membuat mereka rela untuk bangun lebih cepat di pagi hari, segera mandi dan bersiap menerima tubuh dan darah Kristus. Menyemangati mereka untuk datang ke persekutuan doa pagi. Menyemangati mereka untuk datang ke perkutuan doa mingguan. Langkah yang sudah tertatih-tatih, punggung yang sudah tidak dapat bertahan duduk sekian lama, dan berbagai kelemahan fisik lain tidak begitu menjad hambatan. Pokoknya, yang berhubungan dengan Tuhan, Yesus, Allah, mereka sangat peka dan jujur. Aku memperhatikan, setiap kata Tuhan, Allah, atau Yesus mereka dengar, ada raut harapan dan semangat di wajah mereka. Apa mungkin mereka membayangkan hari akhir mereka yang bahagia???

Dari semua itu aku bertanya, lantas apa yang harus kulakukan sekarang sebagai anak Tuhan yang masih segar? Apa pula perananku ketika aku menjadi seorang pendeta atau pelayan gereja kelak?

Ketika pelayanan perjamuan kudus ke rumah-rumah aku melihat bagaimana seorang pendeta dinanti-nantikan oleh mereka yang sudah sangat terbatas. Bagaimana semangat mereka, senyum mereka, tawa mereka tergambar walaupun sangat terbatas ketika mendengar, “Bapa/Ibu pendeta datang”, atau, “Dari gereja datang!” Seakan-akan memang kehadiran kami itu seperti hadirnya sesutau yang spesial dalam hidup. Dari situ aku bertanya, apakah itu artinya menjadi terang? Lebih ekstrem lagi, aku bertanya dalam hati, apakah seorang pendeta itu sebagai pengantar seseorang ke akhir hidup dengan penuh rasa bahagia dan tenang? Kalau iya, sepertinya itu sangat berat. Berat ketika ternyata, aku sebagai seorang pelayan menjalankan semua itu hanya sebagai bagian dari profesiku. Bukankah itu kejam??? Jemaat mengharapkan roti dan anggur memang berkonsekrasi menjadi tubuh dan darah Kristus, sehingga mereka menjadi beroleh keselamatan. Apa iya itu terjadi dengan kemanusiaanku yang demikian?? Itu baru satu sisi mungkin.

Kalau aku ingat pengalaman lain saat bagian dari para pelayan gereja mulai letih dan jenuh. Ada pikiran untuk menghentikan pelayanan. Aku ngeri dengan pernyataan seperti itu. Tapi kemudian aku pun memikirkan tentang kengerian yang kualami. Apakah aku ngeri karena sebenarnya aku yakin kalau aku tidak sanggup menangani semua sendiri?!?! Atau aku takut akan menjadi seperti mereka juga, mulai kalah dengan waktu yang melahirkan berbagai macam pengalaman???

Sebenarnya semua ini pernah ada dalam pikiranku, tetapi entah kenapa sekarang menjadi sangat penting untuk kupikirkan. Sekedar karena sedang stage atau karena memang aku benar-benar mulai punya mata yang lebih besar lagi dengan realita hidup???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: