Sebuah pengalaman stage : Tugasku kah??

November 25, 2009

Di kesempatan ini aku belajar sangat banyak tentang makna kehidupan manusia. Bagaimana manusia itu sangat menarik untuk dipahami jalan hidupnya. Manusia punya keinginan, manusia punya pengetahuan, manusia punya keahlian, manusia bisa mengembangkan hidup, dan ada sangat..sangat..sangat..banyak hal dalam hidup manusia tersebut yang dapat diamati dan dipelajari. Tapi meskipun demikian, saat keterbatasan sudah menghadang manusia, manusia itu terlihat sangat kecil.

Aku masih ingat jelas bagaimana pengalaman saya melihat orang-orang tua yang sudah sangat terbatas secara fisik karena sakit. Mereka tidak sanggup lagi bepergian, bahkan untuk ke gereja. Kursi roda dan kursi roda. Tempat tidur dan tempat tidur. Seolah-olah hanya segitulah dunia mereka. Tapi, beberapa waktu lalu aku masih bisa melihat orang-orang lanjut usia dengan keadaan yang lebih baik. Masih bisa berjalan, berbicara lancar, dan memberikan respon yang baik. Ya,,, walaupun sudah mulai melambat dalam pergerakannya. Tapi itu pun ternyata pada satu sisi mereka sangat lemah. Saat ternyata ada luka batin yang mereka simpan, dan itu terungkit kembali. Sangat jelas kulihat bagaimana mereka tiba-tiba berubah menjadi orang yang begitu kesakitan, bahkan emosi mereka pun terluapkan dalam air mata dan suara rintihan yang keluar dari diri terdalam mereka. Aku iba melihatnya. Aku pun bertanya lagi pada diriku, apa yang bisa kuperbuat untuk orang-orang ini??? Apa yang mereka harapkan dari orang-orang seperti aku?? Aku sempat berpikir, apa yang mereka pikirkan pada waktu-waktu senggang mereka yang begitu banyak??? Apakah mereka menemukan Tuhan?? Bagaimana cara mereka mencari Tuhan?? Bukankah seharusnya luka-luka batin mereka sembuh dengan begitu banyak waktu yang mereka miliki untuk sendiri. Atau jangan-jangan mereka tidak sadar dengan kesempatan itu?? Semoga aku tidak terlalu jauh bertanya-tanya tentang mereka.

Di sisi lain, aku pun melihat orang-orang muda yang masih sangat segar. Terlihat masih sangat menikmati hari-harinya, sepertinya. Aku sedikit ragu. Karena ternyata dari percakapanku dengan beberapa orang, yang mereka nikmati adalah dunia terang yang mereka punya. Dunia yang di dalamnya ada suka cita, rejeki, teman-teman, canda, tawa, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Tetapi saat kami membicarakan tentang problematika hidup, seakan-akan itu menjadi dunia yang gelap. Dunia yang tidak diharapkan, tidak ada gunanya, tidak ada nilai baiknya. Pengalaman-pengalaman membuat kesalahan ada di dalam dunia gelap itu. Kekecewaan-kekecewaan juga ada di dalam dunia gelap itu.

Aku merasa prihatin dengan semua itu. Mungkin,, mungkin,, karena hidupku yang bisa kujalani dengan lebih baik dari sebelumnya ini kudapat dari pembelajaranku akan dunia gelap itu. Itu menurutku. Ingin rasanya mengatakan pada mereka, “Heyyy, di dalam dunia gelap itu ada sangat banyak pelajaran untuk bertahan di masa depan dengan lebih siap. Mari kita lihat bersama.!!!” Tapi sampai sekarang aku masih ciut nyalinya karena aku berpikir, siapalah aku??

Aku berpikir kalau-kalau ternyata sampai hari ini ada begitu banyak orang yang hidup dalam keterbatasan menikmati hidup secara total karena tidak mau mengakui dunia gelapnya. Tidak mau belajar menikmati kegelapan yang perlu ada. Lagi-lagi aku bertanya-tanya. Tugaskukah ini sebagai seorang pelayan? Dari mana aku harus memulai untuk membantu mereka?? Bagaimana kalau aku ditolak??

 

Sebuah pengalaman stage : Usia Lanjut

November 25, 2009

Mengikuti berbagai kegiatan selama mengikuti prkatek kejemaatan ini, ada sangat banyak pengalaman, pelajaran, dan ilmu yang kudapatkan tentang hidup. Hidup awam maupun hidup para penggereja. Bahkan tidak jarang semua itu membuat aku tersentak sehingga membekas sedemikian rupa dalam ingatanku. Ada kalanya aku tersentak karena takjub, namun juga karena merasa asing dengan pengalaman tersebut.

Aku mulai dengan pelajaran dari pengalamanku dengan mereka yang sudah berusia lanjut. Aku melihat bagaimana manusia itu ternyata kalah dengan waktu. Waktu membawa manusia pada ambang batasnya. Kulihat diriku dan diri orang-orang yang masih dikatakan muda ini. Bergerak aktif dan cekatan, punya akselarasi yang baik, respon sensitif, dan intinya, masih segar. Sedangkan mereka, rasa-rasanya semua terlihat sangat lambat dan terbatas. Bahkan, ketika aku pun harus melihat bentuk keberadaan yang lain, yaitu ketika mereka hanya bisa duduk dan duduk di kursi roda. Kursi roda menjadi bumi mini mereka. Bumi yang membawa mereka di bumi yang sebenarnya, karena di bumi yang sebenarnya mereka tidak dapat lagi berbuat apa-apa untuk melangkah. Lebih dari itu, di kursi itu keadaan mereka menjadi sangat berbeda dari cerita-cerita tentang mereka yang pernah kudengarkan. Mereka yang tadinya kuat, enerjik, bersemangat dan merespon dengan baik, sekarang terlihat sangat ringkih dan bahkan memberikan respon tidak sesuai dengan harapan. Hampir tidak ada lagi sisa-sisa kegagahan seorang manusia dalam diri mereka. Waktu menang dan mengalahkan kemanusiaan.

Tetapi, dari keprihatinan yang demikian kekagumanku pun lahir. Ada dua hal yang umumnya mereka miliki dan menjadi kelebihan mereka, yaitu waktu itu sendiri dan kesetiaan.

Waktu, yang semasa muda menjadi salah satu petarung saingan yang sering mengalahkan mereka dalam hidup mereka, sekarang menjadi teman sejati mereka. Maksudku, sekarang mereka memiliki waktu itu sepenuhnnya. Waktu tidak lagi menjaid momok yang selalu mengejar aktivitas hidup. Seolah-olah semua bergantung pada waktu.  Sekarang waktu itu selalu ada untuk mereka dan diri mereka. Dengan waktu mereka mempelajari hidup yang pernah ada dulu dan sekarang untuk hidup di masa depan. Itu yang kulihat ketika ada realita yang menunjukkan Opa-opa dan Oma-oma yang dengan setianya datang ke gereja untuk berbagai persekutuan yang ada. Dan kesetiaan itulah kekagumanku yang kedua.

Waktu yang telah membuat mereka “kalah” secara fisik, melemahkan mereka, secara tidak langsung melatih mereka menjadi orang yang peka demi harapan mereka di masa mendatang. Harapan akan akhir yang indah dari mereka. Mungkin itu yang membuat mereka rela untuk bangun lebih cepat di pagi hari, segera mandi dan bersiap menerima tubuh dan darah Kristus. Menyemangati mereka untuk datang ke persekutuan doa pagi. Menyemangati mereka untuk datang ke perkutuan doa mingguan. Langkah yang sudah tertatih-tatih, punggung yang sudah tidak dapat bertahan duduk sekian lama, dan berbagai kelemahan fisik lain tidak begitu menjad hambatan. Pokoknya, yang berhubungan dengan Tuhan, Yesus, Allah, mereka sangat peka dan jujur. Aku memperhatikan, setiap kata Tuhan, Allah, atau Yesus mereka dengar, ada raut harapan dan semangat di wajah mereka. Apa mungkin mereka membayangkan hari akhir mereka yang bahagia???

Dari semua itu aku bertanya, lantas apa yang harus kulakukan sekarang sebagai anak Tuhan yang masih segar? Apa pula perananku ketika aku menjadi seorang pendeta atau pelayan gereja kelak?

Ketika pelayanan perjamuan kudus ke rumah-rumah aku melihat bagaimana seorang pendeta dinanti-nantikan oleh mereka yang sudah sangat terbatas. Bagaimana semangat mereka, senyum mereka, tawa mereka tergambar walaupun sangat terbatas ketika mendengar, “Bapa/Ibu pendeta datang”, atau, “Dari gereja datang!” Seakan-akan memang kehadiran kami itu seperti hadirnya sesutau yang spesial dalam hidup. Dari situ aku bertanya, apakah itu artinya menjadi terang? Lebih ekstrem lagi, aku bertanya dalam hati, apakah seorang pendeta itu sebagai pengantar seseorang ke akhir hidup dengan penuh rasa bahagia dan tenang? Kalau iya, sepertinya itu sangat berat. Berat ketika ternyata, aku sebagai seorang pelayan menjalankan semua itu hanya sebagai bagian dari profesiku. Bukankah itu kejam??? Jemaat mengharapkan roti dan anggur memang berkonsekrasi menjadi tubuh dan darah Kristus, sehingga mereka menjadi beroleh keselamatan. Apa iya itu terjadi dengan kemanusiaanku yang demikian?? Itu baru satu sisi mungkin.

Kalau aku ingat pengalaman lain saat bagian dari para pelayan gereja mulai letih dan jenuh. Ada pikiran untuk menghentikan pelayanan. Aku ngeri dengan pernyataan seperti itu. Tapi kemudian aku pun memikirkan tentang kengerian yang kualami. Apakah aku ngeri karena sebenarnya aku yakin kalau aku tidak sanggup menangani semua sendiri?!?! Atau aku takut akan menjadi seperti mereka juga, mulai kalah dengan waktu yang melahirkan berbagai macam pengalaman???

Sebenarnya semua ini pernah ada dalam pikiranku, tetapi entah kenapa sekarang menjadi sangat penting untuk kupikirkan. Sekedar karena sedang stage atau karena memang aku benar-benar mulai punya mata yang lebih besar lagi dengan realita hidup???

Plong dan menjadi terang…

November 25, 2009

Kalau kita mempunyai keinginan untuk menjadi terang itu, terlebih dahulu kita harus ingat sumber yang paling utama dari terang itu sendiri, yaitu Allah. Dengan karya-Nya yang begitu besar, Allah menjadikan semuanya, termasuk hidup kita dan pengalaman di dalamnya. Bumi ini yang semula tidak ada apa-apanya, dengan karya Allah menjadi terang dan teratur. Allah menata semuanya. Tetapi, seperti kita ketahui manusia menjadikan dunia menjadi gelap lagi karena dosanya. Segala sesuatu yang telah ditata Allah dengan begitu baik, menjadi berantakan. Mungkin, pernah dalam hidup kita, kita juga merasa atau sadar bahwa tingkah laku kita, perkataan kita, atau pikiran kita juga membawa kita pada dosa. Sehingga hidup menjadi terasa rusak. Hidup kita tidak plong!!!

Tetapi, Allah sungguh baik. Dia sendiri berusaha membuat hidup manusia kembali terang, dengan datangnya Yesus.Sebagai orang-orang yang sudah plong, atau orang-orang yang akan dibuat Yesus plong, kita punya tugas untuk membuat sekitar kita plong juga. Mungkin seperti lilin-lilin kecil. Karya kita kalah besar dengan karya Allah dan Yesus. Tapi lihat, ketika kita semua berusaha untuk menjadi terang itu, pribadi lepas pribadi, cahaya itu, terang itu, semakin jelas… Dengan cara hidup kita yang benar, dengan kata-kata kita yang jujur dan benar, dengan perbuatan kita yang mendatangkan kebaikan. Dalam keluarga, dalam gereja, dalam lingkungan kita. Bayangkan kalau satu orang saja bisa melihat kebaikan Allah dalam hidup kita, berarti lilin ini pun akan bertambah masing-masing satu, dan semakin teranglah hidup ini. Amin.

God is every where!!!

November 25, 2009

God is every where…

In a room, but also in an island.

In one building, also in human heart..

 

The case is, how we can feel God?!?

Because God can presence in all of things and by all of things, not difficult to find God.

Need open our eyes to see all of our life experiences.

Need open mind to think everything about the meaning of our life experiences.

Need open heart to feel deeply every taste of our life experiences.

Ofcourse, it need a time.

But the time is ours, every body have their own time.

So, to know God it’s just need a time to be sensitive to our own life experiences.

Liturgi dengan Icon

November 25, 2009

Tema               : “I & THOU”

Tujuan             :

Ibadah yang banyak menggunakan seni icon ini bertujuan memperkenalkan orang-orang disekitar Yesus, yang sebenarnya berpengaruh tetapi dipandang sebelah mata. Simon dari Kirene yang menolong Yesus dalam prosesi penyaliban, Maria dan yusuf sebagai orang tua yang membesarkan Yesus, dan lain-lain. ibadah ini bertujuan mengingatkan kita bahwa Yesus sendiri dalam keberadaannya sebagai manusia yang lemah juga pernah mendapat pertolongan dari orang-orang yang justru hampir terlupakan. Mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari selalu ada orang-orang biasa yang SANGAT luar biasa dalam hidup kita ketika menghadapi persoalan kehidupan.

  1. Prosesi + nyanyian pembuka ( KJ 13:1-3 )

(Petugas membawa 6 ikon utama, lalu ditata di altar utama).

  1. Narasi pengantar

Saudara-saudara, tidak ada manusia yang pernah sanggup hidup sendiri di dunia tanpa orang lain. Bahkan, saat Tuhan menjelma menjadi manusia dalam rupa Yesus. Memberitakan kabar keselamatan, dan mewujudkannya bagi semua orang. Dan itu terjadi, dengan keberadaan orang-orang lain di muka bumi ini, sampai hari ini, di sini…

  1. Saat teduh
  1. a. Ikon 1 : Keluarga Kudus

Yusuf dan Maria. Sepasang anak manusia manusia biasa, yang menjadi sangat istimewa saat mendapat kepercayaan sebagai orang tua dari Sang Penyelamat. Tidak pernah meminta untuk menjadi se-istimewa itu. Namun juga tidak menolak untuk menjadi se-istimewa itu. Hamil di masa bertunangan, belum terikat secara sah, bukan hal yang gampang bagi Maria. Memiliki isteri yang hamil sebelum menikah, mungkin bukan masalah bagi Ysusf secara pribadi. Namun masalah bagi  orang lain yang mempertanyakannya. Keteguhan hati menjadi jalan pembuka dari keselamatan itu. Lahirnya Sang Juru Selamat dengan kasih hangat Bapak dan Ibu. Besarnya Juru Selamat dan belajar menjadi manusia, dengan sentuhan cinta Bapak dan Ibu. Yusuf, Maria, dan Yesus dalam ikatan Keluarga Kudus.

b. Lagu : reflektif.

5. a. Ikon Yudas Iskariot

Sang penghianat… itulah gambaran manusia umumnya saat mengetahui apa yang diperbuatnya dengan Yesus. Tidak lebih dari manusia bermata uang dan kekayaan. Penghianat…, penghianat…, penghianat… Gelar yang sering dielu-elukan baginya. Bisakah itu dikatakan sebagai penghianatan yang kita nantikan dan butuhkan? Yudas Iskariot, salah satu korban lain dari dosa kita.

b. Lagu : reflektif.

6. a. Ikon 3 : Maria Magdalena

Wanita baik hati, yang kebaikan hatinya banyak disalah pandang oleh orang lain. Wanita yang menunjukkan kesetiaan yang teramat sangat dalam pada sang Kristus. Wanita yang mau merelakan milikinya demi keselamatan dirinya dan keselamatan semua orang percaya, yang dimulai dengan berbagai perjalannya dengan sang Kristus yang sangat dicintainya. Perjalanan untuk memulai keselamatan itu dalam kisah-kisah, yang berujung pada peristiwa nyata di salib. Bahkan menjadi salah satu orang yang paling setia menunggui sampai salib itu diturunkan. Setia menunggui ketika Kristus kita disimpan dalam kubur. Sungguh kesetiaan yang didasari cinta sepenuhnya. Kemurnian cinta yang sulit untuk dimengerti.

b. Lagu : reflektif (Yesus Ingat aku)

7. a. Ikon 4 : Yohannes murid Yesus Kristus

Sebagai salah satu murid yang paling dekat dengan Yesus. Menjadi saksi hidup terjadinya keselamatan itu. Merekam semua saat-saat bersama dengan Yesus. Tetap setia kepada Yesus. Kesetiaan yang muncul dari kelembutan hati dan tingkah laku. Yohanes. Dia yang ada dalam kegentaran hati Yesus di taman Getsemane. Meskipun tertidur, namun kehadiran-Nya tentulah sedikit banyak memberikan kehangatan bagi sisi manusia Yesus, yang menuntun Yesus pada keputusan besar-Nya. Menerima kecupan Yudas, dan memilih ditelanjangi di kayu salib. Kelembutan hatinya yang mau menemani Yesus di awal saat-saat penderitan-Nya, mampu memberikan rasa percaya diri pada Yesus untuk menjalani saat-saat itu.

b. Lagu : reflektif

8. a. Ikon 5 : Simon dari Kirene

Pernahkan kita membayangkan seandainya kita yang tiba-tiba disuruh memanggul salib itu? Dengan masyarakat yang dikondisikan berpandangan sinis terhadap orang yang memanggul salib. Simon dari Kirene. Orang yang bersedia melakukan tugas mulia itu. Meski hanya sesaat menggantikan Yesus, namun salib itu pernah ada di pundaknya. Seorang asing. Seorang pendatang yang mungkin tidak sengaja menyaksikan peristiwa salib itu. Dia yang mungkin tidak pernah membayangkan dirinya membantu agar salib itu sampai pada tempatnya, berdiri kokoh, dan mempertontonkan sebuah kisah dimulainya hidup orang benar. Entah apa jadinya apabila di tengah jalan, Simon pun lelah, dan memutuskan membuang salib itu ke tanah. Menolaknya. Adakah yang bersedia menjadi orang ketiga yang pernah memanggul salib itu???

b. Lagu : reflektif

9. a. Ikon 6 : Bapa-bapa Gereja

Mereka adalah orang-orang yang mau memberitakan terus karya keselamatan itu. Mereka yang mau agar kematian Yesus dan semua penerus karya-Nya menjadi anugerah yang sangat indah bagi kita. Paulus, para pemgikutnya, Agustinus, bapa-bapa reformator, dan semua orang yang membuat kita mampu berkata hari ini , “Saya orang Kristen.”   “Saya mengikut Kristus”. Menjalankan tugas yang sama beratnya, karena nyawa adalah taruhannya. Bahkan di antara mereka berakhir dengan kematian yang hampir, nyaris, sama dipermalukannya dengan Sang Inspirasi.

b. Lagu : reflektif

10. Kotbah

11. Nyanyi penutup

12. Doa dan Berkat

Yogyakarta

Hasudungan Putra Maduma Simanjuntak

sdungs_batako3107@yahoo.com

Liturgi Penutup Tahun Ajaran

November 25, 2009
  1. Prosesi Ibadah (lilin-lilin kecil, salib, dan icon-icon)

Sebelum prosesi masuk, ciptakan suasana yang hening, sehening mungkin. Dalam suasana tersebut, rombongan prosesi masuk dengan bawaan masing-masing. Di altar terdapat sau lilin besar dalam keadaan mati. Selanjutnya prosesi berjalan menuju altar, dengan susunan pembawa salib, diikuti pembawa icon-icon, dan terakhir pembawa lilin-lilin. Salib diletakkan persis di depan lilin besar. Sementara semua lilin kecil diletakkan disekitar lilin besar dan salib. Setelah semua lilin kecil diletakkan, pemimpin ibadah meniup semua lilin kecil dan menyalakan lilin besar. Masih dalam keadaan hening, rombongan prosesi meninggalkan altar, kembali ke tempat masing-masing.

  1. Ungkapan Iman Jemaat dan Votum

Ungkapan iman ini dilakukan seperti ibadah Quaker. Dengan memanfaatkan suasana hening yang tercipta, para petugas – sebelumnya sudah duduk menyebar di antara jemaat – yang akan membacakan ungkapan iman ini berdiri dan membacakan ungkapan iman yang menjadi bagiannya. Ungkapan imannya berisi pemaknaan akan simbol-simbol ibadah yang ada.

Contoh :

  • Bagiku salib adalah pertanda betapa besarnya kasih Tuhan dalam hidupku. Salib itu melambangkan kesempatan hidup yang begitu istimewa karena aku telah ikut dalam karya penebusan Yesus Kristus. Salib pertandan kemenanganku. Salib membawa membawaku untuk semakin dekat pada Tuhanku.
  • Icon-icon di depan sana mengingatkan aku bahwa tidak ada manusia yang pernah sanggup hidup sendiri di dunia tanpa orang lain. Bahkan, saat Tuhan menjelma menjadi manusia dalam rupa Yesus. Memberitakan kabar keselamatan, dan mewujudkannya bagi semua orang. Dan itu terjadi, dengan keberadaan orang-orang lain di muka bumi ini, sampai hari ini, di sini… Dalam perjuangan hidup kita, ada begitu banyak orang yang hadir, dengan atau tanpa kita sadari. Biarlah kita memampukan diri kita untuk melihat pancaran kehidupan positif maupun negative mereka sebagai jalan untuk sampai pada panggilan kehidupan kita.
  • Lilin-lilin kecil itu melambangkan semangat Roh Kudus yang terus menyala di dalam hidup semua umat manusia. Sepanjang hidup, selama masih ada kesempatan, cahaya itu akan terus menyala di dalamku. Cahaya yang akan menerangi jalan-jalanku dan jalan orang-orang disekitarku. Sampai akhirnya nanti, waktuku habis di sini, dan cahayaku menjadi satu dengan cahaya Allahku.
  1. Nyanyian Bersama
  1. Persembahan Pujian
  1. Ungkapan Bahagia

Sungguh bahagia rasanya terlahir sebagai orang yang diselamatkan atas segala dosa yang menjadi penghalang bagi manusia untuk dekat dengan Tuhan. Keselamatan yang bersumber pada cita kasih Allah. Cinta kasih adalah ungkapan sederhana, namun penuh makna. Dalam cinta kasih ada pengampunan , ada kesabaran, ada kerendahan hati…dan suka member. Cinta kasih berbuahkan rasa saling menghormati, saling mempercayai, saling memberi dan saling menerima. Cinta kasih, menghadirkan damai sejahtera, lahir dan batin bagi setiap pribadi dalam kehidupan. Alangkah indah, pabila setiap pribadi dalam kehidupan ini bisa menghadirkan kasih. Karena disitulah pangkal kesentosaan dan kebahagiaan. Dalam cinta kasih, rahmat Tuhan tercurah.

  1. Persembahan Pujian
  1. Firman :
  • Lagu Pengantar (misalnya : KJ 434, 53, dll)
  • Firman
  1. Doa-doa Umat
  • Syukur atas perjalanan satu semester
  • Pelaksanaan berbagai program sekolah/kampus
  • Ujian Akhir Semester
  • Rencana-rencana semester berikut
  • Harapan-harapan di Semester berikut
  1. Narasi Penutup

10.  Pengutusan

11.  Berkat

(digunakan sebagai Liturgi tutup semester UKDW 30 Nov 2008)

Yogyakarta

Hasudungan Putra Maduma Simanjuntak™

sdungs_batako3107@yahoo.com

Liturgi dengan Unsur Alam

November 25, 2009
  1. Persiapan dan Pembukaan Ibadah

Jemaat diminta sejenak untuk saat teduh pribadi lalu anak-anak sekolah minggu menyanyikan Semesta Bernyanyi dengan riang gembira. Cukup diiringi petikan gitar saja dengan beat yang riang gembira. Dinyanyikan 2 kali secara keseluruhan lalu ditutup dengan pengulangan bagian reffrein 1 kali lagi. Anak-anak boleh menyanyikan sambil tepuk tangan.

 

  1. Prosesi diiringi Nyanyian Pembuka KJ No. 1 “Haleluya, Pujilah”

Pendeta dan Penatua memasuki ruang ibadah dengan membawa beberapa symbol, yang terdiri dari : salib, kitab suci, obor yang menyala (melambangkan api), cawan atau mangkok berisi tanah, mangkok yang berisi air, dan sebuah balon (melambangkan udara). Semuanya diletakkan di tempat yang telah disediakan di depan pelataran.

 

Votum dan Salam

Pendeta:

“Bersyukurlah kepada Allah semesta langit! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 136:26)

“Patutlah kita sungguh bersyukur atas alam semesta yang Tuhan berikan kepada kita. Segala hewan, segala tanaman, segala ciptaan yang ada membuat kita mampu untuk bertahan hidup sampai pada hari ini. Oleh karena itu, patutlah pada hari ini kita mengucap syukur pada Tuhan dengan merayakan persekutuan kita ini.”

Nyanyian Bersama : KJ No. 337:1-3 “Betapa Kita Tidak Bersyukur”

 

Pengakuan Dosa

Pendeta :

Betapa indahnya Allah telah menciptakan langit dan bumi, terang, cakrawala, air, daratan, burung di udara, tanaman, hewan di darat, bahkan manusia. Dan semuanya itu diciptakan baik adanya. Segala kebaikan itu pun dipercyakan kepada kita, manusia, ciptaan yang terbaik. Namun, sejenak kita diminta untuk menyadari segala kekurangan kita hidup di alam ini.

Sampah, asap, minyak-minyak bekas yang dibuang begitu saja. Semua itu adalah contoh kekurangan kita sebagai orang yang Tuhan percaya untuk memelihara alam. Saat semua itu kita buang sembarangan, alam pun tercemar dan artinya kita gagal dipercaya oleh Allah untuk saat itu. Baiklah kita sekarang mencoba untuk mengingat sudah seberapa banyak kita mencemari alam paling tidak dalam seminggu ini, sebagai bentuk pengakuan kita atas kekurangan, atas kesalahan, atas dosa kita.

Hening sejenak (bisa juga diiringi instrument yang lembut)

Bapa, inilah pengakuan kami Bapa. Ajarkan kami untuk selalu berusaha menjadi anak-anak yang Bapa yang baik. Bahkan sedapat mungkin menjadi yang terbaik. Karena kami telah beroleh pengampunan, dalam karya pengorbanan Anak-Mu Tuhan Yesus Kristus, saudara kami. Amin.

 

Nyanyian Bersama

 

Fragmen 4 Unsur Alam : Berkat yang selalu ada setiap hari!!

 

Udara

Kami memaknai udara sebagai zat yang masuk ke dalam tubuh manusia sehingga membuat manusia itu hidup. Demikian pula dengan Tuhan sebagai pemberi kehidupan yang merasuk ke dalam hidup manusia,dan memampukan manusia itu untuk dapat bertahan hidup.

 

Air

Ada dua dasar pemahaman yang digunakan sebagai titik tolak pengangkatan symbol air dalam rancang area altar ini. Sebagaimana mana yang telah lazim digunakan, tentu saja air sebagai pengingat akan baptisan yang telah diterima oleh jemaat, yang menandakan penerimaan kita akan keselamatan yang telah dimenangkan oleh Kristus di kayu salib. Berdasarkan Galatia 3:27, baptisan pertanda “mengenakan” Yesus di dalam hidup kita. Namun tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Dengan konsep air itu selalu mencari tempat yang lebih rendah, atau dengan bahasa yang lazim disebut mengalir, pemahaman teologis tentang air ini juga selanjutnya hendak diarahkan pada nilai hidup orang Krsiten sebagai penerima baptisan tersebut. Hendaklah orang Kristen tersebut memampukan dirinya menjadi jawaban atas “kehausan” iman orang-orang disekitarnya. Seperti yang tertulis di dalam Wahyu 22:1-2.

 

Tanah

Pemahaman mendasar tentang tanah adalah penekanan tanah sebagai sebagai sumber kehidupan. Dari tanahlah keluar berbagai macam tumbuhan yang mendukung kehidupan seluruh ciptaan yang membutuhkan makanan (Kejadian 1:11-12). Manusia, binatang, dan tumbuhan hidup dan berpijak di tanah. Manusia, binatang, dan tumbuhan saat mati juga akan kembali ke dalam tanah.  namun, sekali lagi, penekanannya adalah pada tanah sebagai sumber kehidupan. Dalam Alkitab, khususnya Yehezkiel 34:27, di mana Allah menjanjikan tanah yang akan memberikan hasil tersebut. Tanah yang diberikan Allah sebagai berkat untuk tempat manusia itu hidup tentram. Ibrani 6:7 menggambarkan bagaimana tanah bekerjasama dengan air. Bak sebuah taman, yang akan gambaran nyata tanah sebagai “tempat keluarnya” kehidupan, dan tempat berlangsungnya kehidupan tersebut. Tanah akan menumbuhkan berbagai tanaman yang indah saat ada air yang mendukungnya  dan ada kemauan bagi si pemiliknya untuk merawatnya dan mengolahnya. Demikian pula hidup dan berbagai unsur pendukungnya yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Bahwa itu akan berguna dan membuat hidup manusia menjadi lebih indah saat semua saling mendukung satu sama lain, dan mau merawat dan berproses di dalam kehidupan yang diberikan Tuhan itu.

 

Api

Tentu saja api melambang semangat Roh Kudus yang hadir di dalam hidup manusia. berangkat dari peristiwa Pentakosta di dalam Kisah Para Rasul 2:1-4, dan dengan semangat Roh Kudus tersebut, diharapkan manusia juga dimampukan untuk menjadi terang di dalam kehidupannya dengan dunia ini (Matius 5:16). Semangat yang membara oleh para rasul juga seperti nyala api yang berkobar. Bagaimana dengan kehidupan keimanan kita? Sudahkah kita mampu menyalakan api kehidupan kita? Ataukah selama ini, hanya nyala api kemarahan yang ada dalam hidup kita?

 

Pelayanan Firman

  • Pembacaan Nats
  • Doa Epiklese
  • Firman

 

Doa-doa Alam

Berdoa syafaat (jemaat, gereja, bangsa dan Negara), tetapi juga doa-doa yang berisi ungkapan syukur untuk alam yang telah Allah berikan pada manusia. Sekaligus juga berisi permohonan untuk bimbingan Tuhan bagi manusia untuk memelihara alam yang ada.

 

10.  Persembahan

Diawali dengan memindahkan simbol-simbol unsur alam dari pelataran altar. Lalu diikuti dengan persembahan jemaat. Persembahan dikumpulkan tanpa iringan lagu atau musik dengan tujuan agar jemaat dapat menyampaikan persembahan dengan penuh penghayatan. Memberikan dari ketulusan dalam hati. Jadi, situasi divaga sehening mungkin untuk persembahan ini.

 

11.  Pengutusan dan Berkat

Tuhan, umat-Mu bersyukur untuk alam yang telah Tuhan percayakan bagi umat-Mu. Meskipun sering melalaikan alam ini sehingga mengakibatkan  kerusakan, Sekarang utuslah umat-Mu  belajar untuk memlihara alam ini. Amin.

Sebagai anak-anak pewaris segala kekayaan Allah, baiklah kita kembali ke kehidupan kita masing-masing. Berusaha untuk memelihara dan mengembangkan apa yang telah Allah Bapa serahkan kepada kita, dan terimalah berkat Allah yang akan menguatkan kita : Allah sumber segala kekuatan yang menciptakan kehidupan alam ini yang memberkati kita sehingga kita pun beroleh kekuatan untuk melanjutkan karya penciptaan Allah di muka bumi ini. Amin.

12.  Perjamuan Kasih

 

Yogyakarta, 26 Mei 2009

Hasudungan Putra Maduma Simanjuntak™

sdungs_batako3107@yahoo.com

 

 

 

Hello world!

November 21, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!